Anak-anakku

Loading...

Friday, December 30, 2011

JASADNYA DIMANDIKAN MALAIKAT

Ada dua tokoh pemimpin yang terbesar di Yathrib pada zaman jahiliyah iaitu Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka kaum Khazraj dan Abu Amir bin Saify, pemuka kaum Aus. Kedua mereka ini adalah bangsawan-bangsawan dan hartawan utama, mereka dihormati dan disegani, kata mereka kata pemutus dalam segala persoalan, langkah mereka segala benar, biar tergelincir.

Setelah islam datang dan kebiasaan jahiliyah terbuang di angkasa Yathrib, maka kemegahan dan kebesaran jahiliyah kedua bangsawan ini pun turut terserak bertebaran dan lenyap menghilang dalam cahaya kebenaran yang sedang memancar.
     Senangkah kedua bangsawan-hartawan itu dengan keadaan demikian ?
     Setelah Yathrib menjadi Madinah, ibukota negara islam yang pertama dan masyarakatnya diliputi nur ilahi, maka Abdullah bin Ubay yang telah kehilangan kemegahan-jahiliyahnya masih tetap juga menetap di Madinah sebagai musang berbulu ayam, hatinya memusuhi Nabi Muhammad sedang lisannya mengikrarkan taat setia. Adapun Abu Amir tidak demikian halnya, dia terus melarikan dirinya ke Makkah untuk sehidup semati dengan kaum Quraisy, dengan membawa hatinya yang telah penuh dendam dan kemarahan. Di zaman jahiliyah dia bergelar Abu Amir Rahib (paderi) dan kemudian kaum Muslimin menamakannya Abu Amir Fasik (durjana).
     Berbeza dengan ayahnya, maka Abdullah (putera Abdullah bin Ubay) dengan sungguh-sungguh telah beriman dengan ALLAH dan kerasulan Muhammad.
     Sewaktu meletus perang Uhud, bersama Rasulullah turut serta pula Abdullah bin Ubay. Tetapi beberapa saat sebelum pertempuran berlaku, Abdullah bin Ubay dengan sebahagian kecil tentera islam meninggalkan gelanggang dan kembali ke Madinah dan mereka ini pada hakikatnya adalah kaum Abdullah bin Ubay yang telah munafik.
     Demikian halnya Abdullah bin Ubay menghadapi perang Uhud, dan bagaimana pula sahabatnya Abu Amir.
     Bersama lima belas kawannya dari kaum Aus, Abu Amir keluar ke medan Uhud. Dia telah menyatakan kepada kaum Quraisy bahawa di medan perang nanti dia akan sanggup mempengaruhi kaumnya, kaum Aus untuk memihak kepada orang Quraisy. Sesampainya di medan perang Uhud maka dia berseru :
     "Saudara-saudara kaum Aus, aku ini adalah Abu Amir, mari bersama aku, saudara-saudaraku !"
     "ALLAH tidak akan memberi engkau kebahagiaan, wahai durjana," menyahut muslimin Aus. Kemudian mereka serbu Abu Amir Fasik itu hendak membunuhnya, tetapi sempat dia melarikan dirinya. Di antara penyerbu-penyerbu itu, terdapat seorang puteranya sendiri, Handhalah bin Abu Amir.
     Suatu lukisan dari sejarah perkembangan kerasulan Muhammad yang mengagumkan dan hampir tidak masuk akal, iaitu Handhalah bin Abu Amir, putera dari seorang bangsawan yang mempunyai kedudukan istimewa dalam lingkungan kaumnya, kaum Aus. Dalam usia masih sangat remaja dia meyakini kerasulan Muhammad dan dakwahnya. Dia rela menderita bersama-sama Nabi Muhammad, dengan meninggalkan kemewahan hidup yang meliputinya selama ini, dengan meninggalkan ayah dan bondanya yang sangat mencintainya, dengan mengorbankan segala apa yang ada padanya, bahkan kemudian dengan rela hati hendak membunuh ayah kandungnya sendiri yang mash kafir.........
     Sehari lagi sebelum perang Uhud iaitu pada malam Jumaat, Handhalah bin Abu Amir duduk bersanding dengan Jamilah, puteri Abdullah bin Ubay, sebagai isterinya. Baru sehari dia menginjak kaki dalam taman kehidupan baru, baru beberapa saat dia mengenyam kenikmatan bergaul dengan isterinya yang cantik jelita, maka besoknya harus berpisah dengan teman hidupnya yang baru itu, kerana gendang perang telah berbunyi dan dia harus menyertainya dengan kesedaran yang penuh, bukan dengan paksaan.
     Dengan hati yang tetap dan wajah yang tenang, Handhalah mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya yang telah berdiri di halaman rumah untuk melepaskan kekasihnya dengan doa selamat. Dia merasa bangga melihat suaminya yang gagah tampan dengan pakaian perang, pedang di pinggang dan perisai di tangannya. Setelah sesaat mata kedua kekasih berpandang nikmat, maka Handhalah berangkatlah ke medan perang.....
     Handhalah berperang sangat gagah berani, sedemikian beraninya sehingga sendirian dia menyerbu ke tengah-tengah barisan musuhnya. Sewaktu dilihatnya Abu Sufyan, terus dia menerkam ke bahunya, sehingga Abu Sufyan tersungkur ke bumi dan Handhalah bertindak terus hendak menyembelihnya dengan pedangnya sendiri. Pada saat yang genting itu, Abu Sufyan berteriak meminta tolong :
     "Wahai saudra-saudaraku kaum Quraisy, lihat aku ini Abu Sufyan bin Harb sedang dalam bahaya......"
mendengar teriakan Abu Sufyan, maka menyerbulah kaum Quraisy ke arah Handhalah dan dipukulnya dari belakang bertubi-tubi. Kemudian sebagai harimau lapar, Handhalah meompat ketengah-tengah mereka yang memukulnya, tetapi sebelum maksudnya tercapai, lembing musuh telah menembus badannya yang menghantarkan dia  ke akhir hayat, dengan meninggalkan isteri yang baru sehari bergaul........
     Dengan ditemani Abu Amir Fasik, setelah peperangan berhenti Abu Sufyan melihat orang-orang yang telah terbunuh, untuk memeriksanya kalau-kalau terdapat Nabi Muhammad yang mereka sangka telah mati.
     Sewaktu mereka melintasi mayat Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, Abu Amir bertanya kepada Abu Sufyan :
     "Kenalkah engkau akan mayat ini  ya Abu Sufyan ?"
     "Tidak, menjawab Abu Sufyan. Inilah Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, pemuka kaum Khazraj, Abu Amir memberi keterangan.
     Sewaktu mereka sampai di tempat mayat Abbas bin 'Ubadah Abu Amir bercerita :
     "Ini adalah mayat Qauqil (Abbas bin 'Ubadah, ya Abu Sufyan pemuka kehormat dari kaumnya."
     Seterusnya Abu Amir menceritakan seorang demi seorang mayat-mayat pahlawan-pahlawan islam yang telah gugur. Waktu dia melihat mayat puteranya sendiri, Handhalah yang badannya telah remuk dan luka parah, maka dia berteriak :
     "Wahai Abu Sufyan, kenalkah engkau akan mayat ini ?" Tidak," menjawab Abu Sufyan.
     "Inilah orang yang sangat mulia dalam pandanganku, inilah putera kandungku Handhalah....."
kemudian meghadap ke arah mayat anaknya, dan dengan sedih dia berkata :
     "Buah hatiku sayang. Dari mula telah ku peringati engkau akan bahaya ini. Ah, anakku andaikata engkau mendengar nasihat orang tuamu, tentu engkau berbahagia dalam hidup...... tentu engkau sekarang masih hidup bersama-sama bangsawan kaummu. Sungguhpun demikian, sekarang ayah mengharap engkau berbahagia juga. Kalau ALLAH memberi kebahagiaan kepada pahlawan perkasa ini (Hamzah) atau pahlawan-pahlawan yang lain di antara pengikut Muhammad, semoga engkau mendapat juga yang demikian........"
     Setelah itu dia berteriak dengan suara yang lantang :
     "Wahai kaum Quraisy, janganlah mayat Handhalah dicincang luluh, sekalipun dia telah menentang aku, orang tuanya, dan melawan kamu......"
     Handhalah telah berada di alam yang lain, dia menjadi penghuni dunia yang fana ini. Mayatnya yang berupa tubuh kasar boleh berada di bumi dan dibuat sesuka hati musuhnya, dicincang lumat atau tidak, bukan soalnya lagi. Dirinya telah berada di taman Firdaus.
     Rasulullah yang sedang melihat ke dunia yang lain itu bersabda kepada sahabat-sahabatnya :" Aku melihat malaikat sedang memandikan jasad Handhalah bin Abu Amir antara langit dan bumi dengan air kasturi dalam bakul perak...."
     Mendengar sabda Nabi Muhammad, maka bergegaslah sahabat ke tempat mayat Handhalah, dan dilihatnya air menitik di kepala Handhalah......
     Segeralah mereka kembali kepada Nabi Muhammad dan menceritakan apa yang mereka lihat. Waktu itu, Nabi mengirim utusan kepada isterinya untuk menanyakan sesuatu. Isterinya menceritakan bahawa Handhalah ke medan perang dalam keadaan berjunub.....kerana waktu pagi terburu-buru tidak sempat mandi.....
     Alangkah berbahagia pahlawan Handhalah, jasadnya yang berjunub dimandikan malaikat.......

No comments:

Post a Comment